Benarkah Bahasa Arab Tidak Bisa Disejajarkan dengan Yunani?

Sebuah Klarifikasi Ilmiah (Tanpa Sentimen, Tanpa Romantisasi)**

Pertanyaan ini sering muncul, baik di ruang akademik maupun diskusi santai:

“Bahasa Arab itu kan turunan, beda zaman dengan Yunani. Jadi tidak bisa disejajarkan, kan?”

Sekilas terdengar masuk akal.
Tapi kalau kita bedah pelan-pelan, pernyataan ini justru bermasalah secara ilmiah—baik dari sisi linguistik, sejarah tulisan, maupun perkembangan ilmu pengetahuan.

Mari kita luruskan, tanpa emosi, tanpa glorifikasi berlebihan.


1. Masalah pertama: menyamakan “lebih dulu” dengan “lebih unggul”

Ini kesalahan logika paling umum.

Fakta bahwa bahasa Yunani Kuno berkembang lebih awal dibanding bahasa Arab Klasik tidak otomatis membuat Yunani:

  • lebih “tinggi”
  • lebih “ilmiah”
  • atau lebih “layak disejajarkan”

Dalam linguistik modern, urutan sejarah tidak pernah dijadikan parameter kualitas bahasa.

Bahasa Inggris hari ini:

  • adalah bahasa turunan
  • jauh lebih muda dari Latin dan Yunani
  • tapi justru menjadi bahasa ilmu global

👉 Jadi sejak awal, argumen timeline ini sudah rapuh.


2. Klarifikasi penting: Bahasa Arab bukan turunan Yunani

Ini poin krusial yang sering keliru dipahami.

Secara linguistik historis:

  • Bahasa Arab berasal dari rumpun Semitik
  • Bahasa Yunani berasal dari rumpun Indo-Eropa

Artinya:

  • beda keluarga
  • beda pohon
  • beda jalur evolusi

Tidak ada hubungan “induk–anak” antara Yunani dan Arab.

Menyebut bahasa Arab sebagai “turunan” (dalam konteks dibandingkan dengan Yunani) adalah kesalahan terminologi ilmiah.

Yang benar:

Bahasa Arab adalah bahasa independen dengan sejarah internalnya sendiri.


3. Soal alfabet: justru Yunani bukan titik awal

Nah, di sini sering terjadi bias narasi.

Banyak yang berkata:

“Yunani adalah bahasa pertama yang memakai alfabet.”

Padahal secara sejarah tulisan:

  • Alfabet Phoenician sudah digunakan lebih dulu
  • Alfabet Yunani mengadaptasi sistem Phoenician
  • Alfabet Latin → dari Yunani → dari Phoenician

Sementara itu:

  • Aksara Arab berkembang dari Nabataean Aramaic
  • Masih berada dalam tradisi besar aksara Semitik, satu ekosistem dengan Phoenician

👉 Artinya:
Baik Yunani maupun Arab bukan pencipta alfabet dari nol, melainkan pewaris dan pengembang.

Maka argumen:

“Yunani unggul karena alfabetnya”

secara historis tidak konsisten.


4. “Beda zaman” tidak berarti “tidak bisa dibandingkan”

Benar, puncak kejayaan:

  • Yunani Klasik: ± abad 5–4 SM
  • Bahasa Arab ilmiah: ± abad 8–12 M

Tapi ilmu pengetahuan tidak berjalan satu arah dan sekali jadi.

Yang terjadi justru:

  • Ilmu Yunani → diterjemahkan ke Arab
  • Dikritik, dikembangkan, disistematisasi
  • Lalu ditransmisikan kembali ke Eropa

Fakta yang sering diabaikan:

  • Banyak karya Aristoteles bertahan lewat bahasa Arab
  • Logika, kedokteran, matematika Yunani mencapai bentuk operasionalnya dalam bahasa Arab

👉 Jadi bahasa Arab bukan “datang terlambat”,
melainkan datang untuk melanjutkan dan mematangkan.


5. Bahasa Arab bukan milik satu bangsa atau satu agama

Ini keunggulan struktural yang sering luput dibahas.

Bahasa Arab:

  • dipakai lintas etnis (Arab, Persia, Kurdi, Andalusia, Berber)
  • lintas agama (Islam, Kristen, Yahudi)
  • lintas disiplin (sains, filsafat, hukum, sastra, teologi)

Ia berfungsi sebagai lingua franca ilmu pengetahuan selama berabad-abad.

Sementara Yunani:

  • sangat kuat di filsafat dan sains awal
  • tetapi tidak pernah menjadi bahasa global lintas peradaban seperti Arab di abad pertengahan

6. Jadi, apakah Arab dan Yunani bisa “disejajarkan”?

Jawaban ilmiahnya tegas:

Tidak layak dibandingkan secara hierarkis
Layak dipahami sebagai dua tradisi besar yang sejajar secara peran

Masing-masing:

  • lahir di konteks sejarah berbeda
  • menjawab kebutuhan intelektual zamannya
  • berkontribusi nyata pada fondasi peradaban manusia

Penutup: Masalahnya bukan bahasa, tapi cara pandang

Sebagian besar klaim yang merendahkan bahasa Arab:

  • lahir dari narasi Euro-sentris
  • bukan dari kajian linguistik yang jujur

Jika kita berbicara secara ilmiah, maka kesimpulannya jelas:

Bahasa Arab dan bahasa Yunani adalah dua pilar besar sejarah intelektual manusia.
Bukan untuk dipertandingkan,
tapi untuk dipahami kontribusinya masing-masing.

Dan justru di situlah kedewasaan berpikir dimulai.

Lakukan Perubahan Sekarang

Rekomendasi Tulisan