Mengapa Seorang Muslim Tidak Bisa Netral terhadap Bahasa Arab

Coba kita mulai dari hal yang sangat sederhana.

Kalau hari ini saya mengajak Anda bekerja ke Florida, Amerika Serikat—
lalu Anda belum bisa bahasa Inggris—
apa yang spontan Anda katakan?

Hampir pasti:

“Saya tidak bisa bahasa Inggris.”

Kalau tujuan kita pindah ke India,
jawaban serupa akan keluar:

“Saya tidak bisa bahasa Urdu.”

Ke Rusia?

“Saya tidak bisa bahasa Rusia.”

Ke Prancis, Jerman, Spanyol, Cina, Uni Emirat Arab…
jawabannya tetap sama, hanya nama bahasanya yang berubah.

Kenapa begitu?

Karena secara naluriah kita paham satu hal penting:

sebuah bangsa tidak bisa dipisahkan dari bahasanya.

Bahasa bukan aksesori.
Bahasa adalah identitas.


Bahasa: Tanda Pengenal yang Paling Jujur

Kita bisa menyembunyikan banyak hal:

  • status sosial,
  • latar belakang,
  • bahkan keyakinan.

Tapi begitu seseorang berbicara,
bahasanya langsung “membocorkan” siapa dirinya.

Dari bahasa, orang lain tahu:

  • dari mana kita berasal,
  • cara kita berpikir,
  • nilai apa yang kita pegang.

Itulah sebabnya, ketika kita masuk ke sebuah negeri, kita diminta menyesuaikan bahasa. Bukan untuk merendahkan pendatang, tetapi karena bahasa adalah pintu masuk ke identitas mereka.

Sekarang saya ingin balik bertanya.

Bagaimana orang-orang di sekitar Anda mengenali identitas Anda?

Lewat pakaian? Lewat jabatan? Lewat kartu identitas?

Atau…
lewat bahasa yang Anda gunakan setiap hari?


Umat Islam Bukan Satu Bangsa, Tapi Satu Identitas

Di sinilah titik pentingnya.

Umat Islam bukan satu bangsa. Kita berbeda:

  • warna kulit,
  • budaya,
  • wilayah,
  • dan bahasa ibu.

Tapi Islam tidak dibiarkan tercerai-berai tanpa perekat.

Allah memilih satu bahasa pemersatu:

Bahasa Arab.

Bukan karena semua Muslim harus menjadi Arab. Bukan karena budaya Arab lebih tinggi. Tetapi karena bahasa ini dipilih untuk membawa risalah yang menyatukan umat.

Bahasa Arab menjadi:

  • bahasa Al-Qur’an,
  • bahasa shalat,
  • bahasa dzikir,
  • bahasa ilmu-ilmu pokok Islam.

Sehingga, di manapun seorang Muslim berada, ia akan selalu berjumpa dengan bahasa yang sama.


Ikatan Aqidah di Atas Ikatan Bangsa

Islam mengajarkan satu prinsip yang sangat mendasar:

ikatan aqidah berada di atas ikatan bangsa.

Dan ketika aqidah menjadi ikatan tertinggi, bahasa yang menopang aqidah itu pun berada di posisi yang istimewa.

Bahasa Arab bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah:

  • bahasa wahyu,
  • bahasa ibadah,
  • bahasa persatuan umat.

Maka wajar jika kedudukannya berbeda dari bahasa lain. Bukan untuk meniadakan bahasa ibu, tetapi untuk menjaga satu identitas bersama di atas perbedaan bangsa.


Ketika Bahasa Arab Dijauhkan dari Identitas

Masalahnya hari ini, banyak Muslim memandang bahasa Arab hanya sebagai:

  • pelajaran sekolah,
  • hafalan tajwid,
  • atau sekadar bacaan ritual.

Padahal, ketika bahasa Arab dijauhkan dari identitas, yang terjadi adalah:

  • Al-Qur’an dibaca tanpa kedekatan makna,
  • ibadah dilakukan tanpa rasa dialog,
  • dan umat kehilangan bahasa pemersatu secara sadar.

Bukan karena mereka tidak cinta Islam, tetapi karena bahasa Islamnya tidak benar-benar mereka miliki.


Menguasai Bahasa Arab: Menguatkan Identitas, Bukan Mengganti Jati Diri

Belajar bahasa Arab bukan berarti meninggalkan budaya lokal. Bukan berarti menjadi orang lain. Dan bukan berarti harus fasih seperti penutur asli.

Belajar bahasa Arab adalah:

menguatkan identitas sebagai Muslim.

Agar ketika Al-Qur’an dibaca, ia tidak sekadar terdengar indah, tetapi juga berbicara.

Agar ketika doa dilafalkan, kita tahu apa yang sedang kita sampaikan.

Dan agar ketika umat Islam bertemu lintas bangsa, ada satu bahasa yang menyatukan hati dan arah.


Penutup

Bahasamu adalah identitasmu. Dan bagi seorang Muslim, bahasa Arab bukan bahasa asing sepenuhnya.

Ia adalah bahasa iman, bahasa ibadah, dan bahasa pemersatu.

Mendekat kepada bahasa Arab bukan soal menjadi siapa, tetapi kembali mengenali diri.

Dan di situlah, bahasa tidak lagi terasa jauh, melainkan terasa pulang.

Lakukan Perubahan Sekarang

Rekomendasi Tulisan