Mana yang Didahulukan: Nahwu, Kosakata, atau Percakapan?

Salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima adalah pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi sangat menentukan arah belajar:

“Sebenarnya, yang harus didahulukan itu apa: nahwu, kosakata, atau percakapan?”

Pertanyaan ini muncul dari berbagai kalangan.

  • Santri yang ingin lebih paham kitab
  • Mahasiswa yang sedang berjuang dengan materi kampus
  • Guru yang ingin mengajar lebih efektif
  • Profesional dewasa yang baru mulai lagi setelah lama berhenti

Menariknya, hampir semua dari mereka pernah mencoba ketiganya, tetapi tetap merasa belum mendapatkan hasil yang memuaskan.

Masalahnya bukan pada pilihan yang salah,
melainkan pada urutan yang tidak tepat.


Ketika Semua Dianggap Penting, Belajar Justru Menjadi Berat

Banyak pembelajar bahasa Arab memulai dengan satu asumsi:

“Kalau mau bisa, ya harus kuat semuanya.”

Akibatnya:

  • Nahwu dipelajari serius
  • Kosakata dikejar banyak
  • Percakapan dicoba meski masih ragu

Secara niat, ini baik.
Namun secara strategi, ini sering kali melelahkan.

Belajar menjadi terasa berat karena otak dipaksa mengerjakan terlalu banyak hal dalam waktu yang bersamaan, tanpa fokus yang jelas.

Dari pengalaman saya, bukan sedikit murid yang sebenarnya mampu, tetapi kehabisan energi mental karena belajar tanpa prioritas.


Memahami Fungsi, Bukan Sekadar Materi

Untuk menjawab pertanyaan ini dengan jernih, kita perlu berhenti sejenak dan memahami fungsi masing-masing.

  • Kosakata adalah bahan mentah
  • Nahwu adalah alat pengatur
  • Percakapan adalah bentuk penggunaan

Masalah muncul ketika fungsi-fungsi ini tertukar atau dipaksakan hadir bersamaan sejak awal.

Belajar bahasa Arab yang sehat selalu dimulai dengan pertanyaan:

“Di tahap ini, fungsi mana yang paling dibutuhkan?”


Kosakata: Pondasi yang Sering Disalahpahami

Tidak ada bahasa tanpa kosakata.
Dalam hal ini, kosakata memang tidak bisa dihindari.

Namun kesalahan yang sering saya temui adalah mengejar jumlah, bukan penggunaan.

Banyak murid:

  • Menghafal ratusan kata
  • Tapi tidak tahu cara menggunakannya dalam kalimat
  • Tidak tahu konteksnya

Kosakata yang benar seharusnya:

  • Dipilih berdasarkan frekuensi penggunaan
  • Langsung dipakai dalam kalimat
  • Diulang dalam konteks yang sama

Dalam pengalaman saya, 20 kata yang dipakai berulang jauh lebih berharga daripada 200 kata yang hanya lewat di hafalan.


Nahwu: Penting, Tapi Tidak Selalu Harus di Depan

Nahwu sering dianggap “gerbang utama” bahasa Arab.
Akibatnya, banyak orang merasa:

“Kalau belum paham nahwu, belum pantas bicara Arab.”

Ini pemahaman yang perlu diluruskan.

Nahwu memang penting, tetapi bukan semuanya harus didahulukan.

Masalahnya bukan pada nahwunya,
melainkan pada cara dan waktu mempelajarinya.

Di awal belajar, nahwu seharusnya:

  • Diperkenalkan secara fungsional
  • Dipakai untuk memahami pola, bukan definisi
  • Membantu, bukan membebani

Nahwu yang terlalu berat di awal sering membuat murid:

  • Takut salah
  • Terlalu berpikir
  • Kehilangan keberanian menggunakan bahasa

Percakapan: Perlu, Tapi Bukan Tanpa Bekal

Di sisi lain, ada juga pendekatan yang terlalu cepat mendorong percakapan.

Saya sering bertemu murid yang berkata:

“Saya ingin langsung bisa ngomong, tidak mau pusing kaidah.”

Keinginan ini wajar, tapi berisiko jika tidak diarahkan.

Percakapan tanpa bekal:

  • Menjadi hafalan dialog
  • Tidak fleksibel
  • Mudah buntu saat konteks berubah

Percakapan yang efektif justru lahir dari:

  • Kosakata yang dipahami maknanya
  • Pola kalimat yang dikenali
  • Nahwu yang bekerja di balik layar

Jadi, Mana yang Didahulukan?

Jawaban jujurnya adalah:

Bukan memilih salah satu, tapi mengatur urutannya.

Dari pengalaman saya membina berbagai level pembelajar, urutan yang paling masuk akal adalah:

1. Kosakata Kontekstual

Bukan banyak, tapi sering dipakai.
Kosakata yang langsung hidup dalam kalimat.

2. Pola Kalimat Dasar (Nahwu Fungsional)

Tanpa istilah berat.
Cukup untuk memahami dan menyusun kalimat sederhana.

3. Percakapan Terbimbing

Menggunakan kosakata dan pola yang sudah dikenal.
Salah boleh, tapi diarahkan.

Nahwu mendalam, kosakata luas, dan percakapan bebas
datang setelah fondasi ini stabil.


Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari

Dari 11 tahun pengalaman, ada beberapa kesalahan yang sering terulang:

  • Mengejar hafalan kaidah tanpa penggunaan
  • Memaksa bicara tanpa fondasi
  • Menunda bicara terlalu lama karena takut salah
  • Menghafal kosakata tanpa konteks

Kesalahan-kesalahan ini bukan karena murid malas,
melainkan karena tidak pernah diberi urutan yang jelas.


Belajar Bahasa Arab Itu Proses Bertahap, Bukan Sekali Jadi

Bahasa Arab bukan soal cepat atau lambat,
tetapi soal tepat atau tidak tepat.

Ketika urutan benar:

  • Belajar terasa lebih ringan
  • Progres lebih terasa
  • Kepercayaan diri tumbuh alami

Ketika urutan salah:

  • Belajar terasa berat
  • Mudah frustrasi
  • Mudah menyalahkan diri sendiri

Untuk Pembelajar Dewasa, Urutan Lebih Penting dari Ambisi

Pembelajar dewasa memiliki:

  • Waktu terbatas
  • Beban pikiran
  • Pengalaman gagal sebelumnya

Karena itu, belajar harus:

  • Fokus
  • Terukur
  • Masuk akal

Ambisi besar tanpa urutan justru menjadi beban.
Urutan yang benar membuat ambisi itu bisa dijalani dengan tenang.


Penutup: Berhenti Bertanya “Apa Lagi?”, Mulai Bertanya “Sekarang Apa?”

Pertanyaan paling sehat dalam belajar bahasa Arab bukan:

  • “Apa yang harus saya pelajari lagi?”

Melainkan:

  • “Apa yang seharusnya saya kuasai sekarang?”

Ketika kosakata, nahwu, dan percakapan ditempatkan sesuai fungsinya,
belajar bahasa Arab berhenti menjadi membingungkan.

Dan dari pengalaman saya,
murid yang akhirnya berkembang pesat
bukan yang mempelajari semuanya sekaligus,
melainkan yang belajar dengan urutan yang tepat.

Lakukan Perubahan Sekarang

Rekomendasi Tulisan