Pernah nggak, Anda merasa kesal karena kata kerja yang paling sering dipakai justru yang paling “nakal”? Kata seperti “berkata”, “menjadi”, atau “datang”—kata-kata dasar yang muncul di hampir setiap kalimat—kok malah terasa beda sendiri dibanding kata kerja lain yang lebih “patuh” aturan? Saya paham betul rasa frustrasi itu. Dan saya punya kabar baik: hurufnya memang suka menghilang, dan begitu Anda tahu polanya, kata-kata “nakal” ini justru jadi salah satu yang paling mudah ditebak.
Kenalan Dulu dengan Si “Bermasalah”: Fi’il Mu’tal
Dalam bahasa Arab, kata kerja yang salah satu huruf akarnya berupa huruf wawu, ya, atau alif (huruf-huruf yang disebut huruf illat, huruf lemah) disebut fi’il mu’tal. Berbeda dari kata kerja “sehat” (fi’il shahih) yang tiga huruf akarnya kuat dan stabil dalam segala bentuk konjugasi, kata kerja mu’tal ini punya kebiasaan aneh: salah satu hurufnya bisa berubah bentuk, melebur, atau bahkan hilang sama sekali tergantung posisinya dalam konjugasi. Dan celakanya—atau untungnya, tergantung cara pandang Anda—kata kerja jenis inilah yang paling sering muncul dalam percakapan sehari-hari: berkata, menjadi, datang, pergi, ingin, takut. Semuanya anggota keluarga “bermasalah” ini. Istilah “illat” sendiri secara harfiah berarti “penyakit” atau “kelemahan” dalam bahasa Arab—sebuah nama yang jujur mengakui bahwa huruf-huruf ini memang secara alami lebih “rapuh” dibanding huruf konsonan lainnya, dan karena itu lebih mudah berubah demi kemudahan pengucapan.
Kenapa Justru Kata Kerja Paling Umum yang Paling “Berantakan”?
Ini bukan kebetulan, dan bukan juga karena bahasa Arab sengaja menyulitkan Anda. Fenomena linguistik ini sebenarnya universal: kata-kata yang paling sering dipakai dalam sebuah bahasa cenderung lebih rentan mengalami penyederhanaan bunyi atau perubahan bentuk seiring waktu, justru karena saking seringnya dipakai. Bandingkan dengan bahasa Inggris—kata kerja paling umum seperti “go”, “be”, dan “have” semuanya tidak beraturan (irregular), sementara kata kerja yang jarang dipakai cenderung mengikuti pola beraturan yang rapi. Semakin sering sebuah kata diucapkan, semakin besar peluangnya mengalami “keausan” bentuk dari generasi ke generasi—dan huruf lemah dalam bahasa Arab (wawu, ya, alif) memang secara alami lebih mudah “aus” dibanding huruf konsonan kuat lainnya. Jadi lain kali Anda kesal karena kata kerja favorit Anda ternyata tidak beraturan, ingatlah bahwa itu justru bukti betapa seringnya kata itu dipakai oleh jutaan penutur selama berabad-abad—sebuah “penghargaan” linguistik, meskipun terasa seperti hukuman bagi pembelajar.
Tiga Jenis Masalah, Tiga Pola yang Bisa Dipelajari
Kabar baiknya, “kenakalan” huruf lemah ini tidak acak—ia mengikuti pola berdasarkan posisi huruf lemah dalam akar. Fi’il mitsal adalah kata kerja yang huruf lemahnya ada di posisi pertama (seperti akar yang berarti “sampai” atau “menemukan”), dan biasanya huruf ini hilang pada bentuk kata kerja masa kini. Fi’il ajwaf adalah kata kerja yang huruf lemahnya ada di tengah (seperti akar yang berarti “berkata” atau “menjadi”), dan huruf ini sering melebur menjadi harakat panjang atau menghilang tergantung konjugasinya. Fi’il naqish adalah kata kerja yang huruf lemahnya ada di akhir (seperti akar yang berarti “melempar” atau “memanggil”), dan huruf ini berubah bentuk tergantung akhiran yang menyertainya.
Begitu Anda tahu di posisi mana huruf lemah itu berada, Anda sudah bisa menebak jenis “kenakalan” apa yang akan terjadi—bukan lagi menghafal setiap kata kerja mu’tal sebagai pengecualian acak yang berdiri sendiri.
Klik tiap kartu untuk lihat contohnya:
Cerita di Balik Kata “Berkata”
Ambil contoh kata kerja yang berarti “berkata”, dari akar q-w-l (huruf lemah di tengah, jadi ini fi’il ajwaf). Dalam bentuk lampau untuk “dia (laki-laki) berkata”, huruf wawu di tengah berubah menjadi alif panjang. Tapi begitu subjeknya berubah menjadi “mereka (perempuan) berkata” atau bentuk lain dengan akhiran konsonan, huruf lemah itu justru menyusut menjadi harakat pendek biasa, seolah “bersembunyi” untuk menghindari dua vokal panjang bertabrakan. Ini bukan aturan sewenang-wenang—ini adalah bahasa Arab yang secara alami menghindari kombinasi bunyi yang sulit diucapkan, dan huruf lemah selalu jadi “korban” pertama dalam proses penyesuaian ini. Fenomena penghindaran bunyi sulit semacam ini, yang dalam linguistik disebut phonotactic constraint, sebenarnya terjadi di hampir semua bahasa di dunia—bahasa Indonesia pun melakukan hal serupa ketika kita secara alami mengucapkan “tidak apa-apa” menjadi “nggak papa” dalam percakapan cepat, karena versi penuhnya terasa terlalu berat untuk diucapkan secara spontan.
Kenapa Menghafal Sebagai Pengecualian Itu Melelahkan (dan Tidak Perlu)
Banyak buku pelajaran mengajarkan fi’il mu’tal dengan cara meminta siswa menghafal tabel konjugasi lengkap untuk setiap kata, seolah setiap kata kerja mu’tal adalah kasus unik yang berdiri sendiri. Pendekatan ini melelahkan dan, jujur saja, tidak perlu. Begitu Anda memahami tiga pola dasar berdasarkan posisi huruf lemah—awal, tengah, akhir—Anda bisa menerapkan pola yang sama ke puluhan akar kata kerja lain yang mengalami jenis “kenakalan” serupa, karena pola perubahannya konsisten dalam satu kategori.
Sekarang giliran Anda menebak — termasuk kategori apa kata kerja ini?
Cara Melatih Insting terhadap Fi’il Mu’tal
Pertanyaan yang Sering Muncul
Penutup: Kata “Nakal” yang Ternyata Punya Aturan Sendiri
Kata kerja berhuruf lemah memang terasa seperti anak bandel dalam keluarga tata bahasa Arab—selalu ada saja yang berubah, hilang, atau melebur setiap kali dikonjugasikan. Tapi begitu Anda melihatnya bukan sebagai kumpulan pengecualian acak, melainkan sebagai tiga pola yang konsisten berdasarkan posisi huruf lemahnya, kata-kata ini berubah dari musuh menjadi teman yang bisa ditebak. Dan yang paling melegakan: karena kata-kata ini yang paling sering dipakai, begitu Anda menguasainya, Anda sudah menguasai sebagian besar percakapan sehari-hari yang benar-benar Anda butuhkan. Jadi lain kali Anda bertemu kata kerja yang terasa “beda sendiri”, coba tersenyum sedikit—itu tandanya Anda sedang berhadapan dengan salah satu kata paling penting dan paling sering dipakai dalam seluruh bahasa Arab.