Pernahkah Anda mendengarkan dua rekaman khutbah atau pembacaan teks, satu dari seorang imam di Mesir dan satu lagi dari seorang imam di Arab Saudi, lalu merasa keduanya seperti berbicara dengan “bahasa Arab yang berbeda”? Padahal teks yang mereka baca sama persis, tulisannya sama, bahkan harakatnya sama. Ini fenomena yang sering membingungkan pembelajar, dan hampir tidak pernah dijelaskan di awal. Yang menarik, penjelasannya tidak ada hubungannya dengan dialek sehari-hari, melainkan dengan cara Fusha itu sendiri diucapkan.
Teksnya Sama, Bunyinya Tidak
Fusha adalah ragam bahasa Arab baku yang dipakai bersama di seluruh dunia Arab, terutama dalam tulisan, khutbah, dan siaran resmi. Ejaannya seragam. Tetapi tulisan tidak menentukan bunyi secara mutlak. Untuk Al-Qur'an, ada standar tajwid yang mengatur pengucapan. Namun untuk Fusha di luar Al-Qur'an, tidak ada satu lembaga yang menetapkan satu lafal tunggal, sehingga para pembaca cenderung melafalkan huruf-huruf itu mengikuti aksen daerah asal mereka.
Dengan kata lain, Fusha adalah rumah bersama, sedangkan aksen adalah kebiasaan tiap penghuninya. Dua orang bisa membaca kalimat yang sama dan terdengar berbeda tanpa ada yang salah, sebagaimana orang Jawa dan orang Minang sama-sama membaca teks bahasa Indonesia dengan logat masing-masing.
Kasus Pertama: Huruf ج
Huruf jim adalah contoh paling terkenal. Di sebagian besar Jazirah Arab, ia dilafalkan seperti “j” dalam kata jalan. Di banyak wilayah Syam dan Afrika Utara, ia terdengar seperti “zh” lembut (seperti bunyi awal je dalam bahasa Prancis). Sedangkan di Mesir, huruf ini dalam ucapan sehari-hari dan dalam pembacaan Fusha non-Al-Qur'an umumnya dibunyikan seperti “g” keras.
Ada satu nuansa penting yang sering terlewat: ketika membaca Al-Qur'an, pembaca Mesir pada umumnya tetap memakai bunyi “j” sebagaimana kebiasaan tajwid. Jadi seorang imam di Mesir bisa terdengar mirip dengan imam di Saudi saat tilawah, lalu terdengar berbeda ketika menyampaikan khutbah atau berbicara dalam ragam Fusha. Perbedaan itu paling terasa di luar ayat.
Tebak: Satu Kata, Tiga Bunyi
Ambil satu kata yang sama, جَمَل yang berarti “unta”, lalu bayangkan ia diucapkan di tiga tempat. Coba tebak dulu bunyinya, lalu klik:
Kasus Kedua: Huruf ق
Huruf qaf punya cerita yang hampir sama. Bunyi standarnya adalah [q], hentian di bagian belakang tenggorokan, dan inilah yang dituju dalam pembacaan Fusha. Namun dalam dialek sehari-hari ia berubah: di banyak dialek Teluk dan Najd sering terdengar seperti “g”, sedangkan di Kairo dan kota-kota Syam ia sering menjadi hamzah. Ketika seseorang membaca Fusha dengan hati-hati, bunyi standar biasanya kembali muncul. Tetapi ketika ia berbicara spontan dalam ragam Fusha, bunyi dialeknya cenderung ikut “bocor”.
Huruf Lain yang Kadang Ikut Bergeser
Huruf ث dan ذ dalam Fusha adalah bunyi antargigi, mirip th dalam bahasa Inggris. Di beberapa dialek, termasuk dialek Mesir, keduanya sering menjadi “s/t” dan “z/d”. Huruf ظ juga sering terdengar seperti “z” yang tebal. Pembaca terlatih biasanya menjaga bunyi standar ketika membaca teks, tetapi pada ucapan yang cepat dan spontan, kebiasaan dialek lebih mudah terdengar. Inilah alasan mengapa perbedaan kadang terasa lebih jelas pada khutbah atau ceramah dibandingkan pada pembacaan Al-Qur'an yang terikat aturan tajwid.
Bukan Soal Aksen Saja: Qira'at Itu Lain Lagi
Satu pembeda penting agar tidak tertukar: aksen bukan qira'at. Aksen menyangkut cara sebuah bunyi diucapkan. Qira'at menyangkut perbedaan pada bacaan teks Al-Qur'an itu sendiri, misalnya riwayat Hafsh dari Ashim yang paling luas dipakai di dunia Islam, termasuk di Indonesia, dan riwayat Warsy dari Nafi' yang dikenal di sebagian wilayah Afrika Utara dan Barat. Jika Anda mendengar perbedaan pada kata atau harakat di dalam ayatnya, kemungkinan itu qira'at, bukan aksen. Jika yang berbeda hanyalah warna bunyi huruf, kemungkinan besar itu aksen.
Lalu, Mana yang Sebaiknya Kita Ikuti?
Untuk Al-Qur'an, pegangan kita jelas: tajwid dan bimbingan langsung seorang guru. Untuk Fusha di luar Al-Qur'an, tidak ada satu aksen yang wajib dianggap paling benar. Saran saya sederhana: pilih satu model pelafalan sebagai patokan latihan Anda supaya konsisten, tetapi biasakan telinga Anda dengan berbagai aksen lain. Sebab kelak, ketika Anda menonton ceramah dari Kairo, mendengar berita dari Riyadh, atau berbincang dengan teman dari Maroko, kemampuan mengenali variasi ini akan sangat menolong pemahaman Anda.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Penutup: Satu Teks, Banyak Suara
Perbedaan bunyi antara imam di Mesir dan imam di Saudi bukan tanda bahwa salah satunya membaca dengan cara yang keliru, dan bukan pula bukti bahwa Fusha itu tidak baku. Ia hanyalah cermin dari kenyataan bahwa satu bahasa tertulis bisa hidup dalam banyak suara. Bagi pembelajar, kabar baiknya jelas: begitu Anda tahu bahwa variasi ini ada dan polanya bisa ditebak, bunyi yang tadinya membingungkan berubah menjadi sesuatu yang justru menarik untuk dikenali. Teksnya satu, suaranya banyak, dan telinga Anda yang terlatih akan menikmati keduanya.